Sekolah Persiapan Pensiun

Kenapa Kita Harus Swadesi



Saya bagikan info kang Jaya, dari gempita jualan online, produk lokal hanya 6-7 persen saja. Sisanya darimana, dari produk impor.

Ini menjelaskan, tidak banyak korelasi antara pertumbuhan transaksi online dengan peningkatan lapangan kerja. Kenapa, karena kita membayar jam kerja orang asing.

Misal, ketika anda beli kaos impor, maka kita membayar jam kerja orang pola, cutting, sablon, jahit & finishing. Andai anda membeli produk dalam negeri, maka anda menghidupi orang banyak dari rantai kerja produksi.

Perkara kedua, masalah big data. Saat berjualan di marketplace, anda seperti telanjang, kaos dalam dan kempes anda ketahuan. Disaat itulah mekanisme copy paste tak bisa dihindari. Saat itu sampai di china, loe, gue, end. China adalah pabriknya dunia yang punya power bahan baku, mesin & sdm murah.

Orang Kita Tak Kalah Hebat





















Bu Mei Soejadi, saya panggil bu Mei. Beliau sudah purna tugas, usianya sekitar 60 tahun. 30 tahun mengabdi di berbagai garment multinasional. Terakhir bergabung dgn produsen garment jepang.

Bicara lugas, nampak benar beliau ini matang dengan profesinya. Selama masa kerjanya, ditempa dalam proses yang ketat dgn prosedur standart global.

Saya tidak sedang berbicara profesi bu Mei. Cuman ada dua kata yang saya dapat darinya seakan menempeleng kepala saya sampai oleng.

Kata pertama, beliau bilang, jam kerja saya panjang di perusahaan global, saya berani katakan, bahwa orang kita tak kalah kualitasnya dengan orang asing. Saya tahu persis itu, karena produk brand2 besar itu kami yg mengerjakan, sambil menceritakan deretan brand2 baju mahal. Statment itu muncul, saat kami diskusi nestapanya negeri ini yang dijajah produk impor.

Kata kedua, kalau orang kita terbukti hebat, kenapa kita terpuruk. Beliau sampaikan, kita ada yang salah. Salah urus alias miss management.

Dari diskusi pagi itu, saya mengamini. Karena memang, saya sering menemui banyak expert tapi tak mendapat tempat berkarya. Sudah saatnya para magister management turun tangan mengaplikasikan ilmunya. Bukannya lulusan manajemen begitu banyak dari universitas.

Barang Kasat Mata






















Barang kasat moto alias barang yang bisa dilihat. Lawannya barang alus alias lelembut. Tidak termasuk tepung dan barung alus sejenis.

Saya seakan mendapat jimat dari senior, saat senior saya dulu mendoktrin, tidak ada barang kasat moto yang tidak bisa dipelajari. Ini bak jimat para cracker & engineer.

Semangat inilah ketika muda, saat menemui mesin server crash, maka dengan daya upaya dari tanya sana sini sampai berselancar google hingga mata pedih untuk mencari cara menghidupkannya. Rupanya mantra itu manjur juga untuk menguji kesungguhan belajar.

Mantra berikutnya, tak ada yang baru dibawah kolong langit. Mantra ini menyemangati untuk berjejaring. Steve jobs bilang, innovation is connecting dot. Inovasi adalah menghubung-hubungkan apa yang telah ada. Simple.

Kadang mantra-mantra seperti ini, bagaikan vitamin untuk terus berkarya menghasilkan sesuatu yang baru. Tak ada yang tidak bisa dipelajari dan semua tinggal menghubung-hubungkan bak puzzle.

Mantra ini seakan obat pereda rasa sakit, bahwa inovasi itu sulit dan hanya bisa dilakukan orang sekolahan, tapi pada prakteknya, lulusan SD berjiwa cracker temuannya bisa menandingi profesor.

Pak Mujaer penemu ikan mujaer yang gurih itu, penemu padi unggulan yang sempat viral. Dan kemarin, orang kampungku, Wlingi yang menemukan alat pengolah limbah jadi bahan bakar.

Agar Bisnis Tak Tutup




















Quote yang selalu saya kenang dari maestro bisnis indonesia, William Soeryadjadja, dan sampai hari ini masih relevan dijadikan rujukan.

Bermainlah layang-layang ditempat yang kencang anginnya, jika layang-layangmu bagus, maka ia akan terbang tinggi, jika layang-layang biasa saja, ia pun akan terkerek naik karena besarnya angin.

Soal mencari angin ini penting, karena siklus bisnis diera digital ini yang semakin pendek. Contoh riil, saat orang perlu wartel, bisnis wartel sangatlah menjanjikan. Saat berubah arah ganti warnet, maka perlahan wartel gulung tikar. Pun demikian, saat akses internet bermigrasi ke telpun tangan, maka perlahan warnet tutup.

Ini semacam angin yang berubah arah. Jika anda memaksakan bisnis ditempat yang asa angin atau tak dibutuhkan orang, bak anda menerbangkan layang-layang ditempat yang tak ada anginnya.

Sehebat apapun layang-layang anda, tak akan pernah menanjak terbang alias tak akan berkembang. Sebaliknya, layang-layang sederhana, akan tetap mampu terbang saat dapat angin grobokan.

Demikian, analog yang indah yang perlu jadi inpirasi pelaku bisnis besar maupum kecil. Pandailah membaca arah angin.

Resep Agar Tak Pailit




















Nasehat Kiyosaki di buku legendarisnya, Rich Dad Poor Dad, layak kita renungkan kembali, saat trend banyak pekerja maupun pengusaha pailit.

Dia bilang, bukan seberapa penting duit yang kamu dapat, tapi jauh lebih penting berapa duit yang kamu simpan. Nasehat ini pas banget buat orang kaya baru.

Mengamati banyak pengusaha china, ditemui, china totok paling memegang prinsip ini. Menjaga agar pasak tak lebib besar dari tiang. Menjaga biaya-biaya tidak terus membengkak melebihi pendapatan.

Saat usaha masih kecil, makan bubur campur lobak yang banyak airnya. Bisnis semakin besar makan bubur yang sedikit air, lebih besar lagi makan nasi, roti, keju sampai level sirip ikan hiu dan sop walet.

Menahan gaya hidup sampai pada posisi yang tepat. Sayang, jarang yang meniru filosofi ini. Usaha baru berjalan, gaya sudah selangit. Beban hidup melebihi pendapatannya. Hutang dijalankan untuk memenuhi semua keinginan.

Padahal, bisnis yang baru jalan, rentan terhadap hama. Saat terserang wereng gagal panen. Pada posisi tersebut, seringkali kali gaya hidup sdh meninggi, hutang konsumtif mencekil yang akhirnya harus menjual aset dgn harga murah, karena bukan aset produktif.

Menjadi penting memilah, mana kebutuhan mana keinginan. Rezeki cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup, namun tak cukup untuk memenuhi keinginan hidup.

Keep simple & minimalist. Selalu berbagi, karena berbagi tak kan mengurangi rezeki.

Berpikir Selalu Ada Peluang



















Bombardir produk china merajai semua online store, terdata produk lokal hanya sekitar 6-7 persen saja. Artinya, yang menikmati hingar bingar dumay ini bukan produsen lokal. Paling, beberapa gelintir importir yang mengambil barang dari alibaba yang kemudian diecer di marketplace lokal.

Saat ongkos produksi produk lokal kalah sama harga eceran barang impor, maka industri lokal sekarat. Banyak produsen berubah profesi jadi pedagang barang impor.

Akibat dari gempuran ini, banyak pengangguran sunyi. Apalagi pabrik besar tekstil, garment dan sepatu pada hengkang ke vietnam dan lainnya. Bahkan, produk yang diklaim produk lokalpun ternyata proses produksinya di china dengan alasan ongkos produksi yang lebih murah.

Bagi pedagang sejati, prinsipnya harus punya seribu akal. Harus perpikir selalu ada peluang, walau peluang itu bak pancaran cahaya sebesar lubang jarum.

Satu resep yang barangkali ampuh, bikinlah produk yang china ndak bikin. Cuman masalahnya, china bikin dari jarum sampai tusuk gigi.

Oleh karena itu, bisa dikatakan peluang itu begitu sempit, tapi ada. Nich market alias market yang sangat sempit.

Mencari ceruk pasar, bak mencari biji dalam jerami. Perlu telaten. Dan saat menemukannya perlu fokus untuk menggarapnya. Istiqomah.

Mang Udin Tukang Sablon





















Mang Udin : the legend

Umurnya lebih muda dari saya, tapi sudah punya cucu. Keahliannya menyablon dan menjahit sudah jaminan mutu.

Mang Udin aseli garut, lahir dan besar di pamengpeuk, dekat pesisir selatan garut. Di kampungnya, bisa dikatakan kampung tukang jahit. 80 persen pemudanya mengadu nasib di kota sebagai penjahit konveksi, sisanya bercocok tanam.

Bersamaku sudah 8 tahun, suka dan duka menghadapi terik dan hujan dalam bisnis yang kami kelola. Dari era pemasaran via blog sampai era pemasaran jaman now, dimana sosmed merajai.

Tak banyak bicara, bahkan kalau saya dan karyawan mengadakan agenda outdoor, lebih banyak stay di workshop. Malu katanya. Tapi kalau soal kerjaan, mau pagi atau malam disikatnya.

Dalam dunia sablon, perubahan juga terus terjadi. Seperti halnya industri kreatif lainnya, saban hari lahir inovasi baru.

Kali ini, ia berinovasi nyablon sandal, dengan tinta, rakel, screen & mesh yang berbeda. Tak ada kata mengeluh untuk belajar sesuatu yang baru, karena memang dunia kreatif adalah dunia para pembelajar.

Dalam waktu senggangnya, mang Udin dengan senang hati berbagi ilmu sablon di sekolah sablon. Karena dia asisten yang telah menemani ratusan peserta yang ingin mendalami dunia sablon.